“ANDAI AKU JADI KEPALA DINAS”

Catatan Tentang Pendidikan Bangkalan yang Tertinggal

Andai aku jadi Kepala Dinas Pendidikan, aku tidak akan duduk di kursi paling empuk sambil menunggu laporan turun. Aku akan berdiri di pintu depan, menyambut setiap orang yang datang membawa harapan, bukan menutup pintu dengan alasan yang tak dipahami siapa pun.

Pemimpin bukanlah orang yang paling tinggi kedudukannya. Pemimpin adalah orang yang paling dekat dengan persoalan. Inilah cermin yang kini harus direnungkan setiap jengkalnya di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan.

Andai aku jadi Kepala Dinas, aku tidak akan membiarkan berkas lengkap tertumpuk debu di meja. Aku tahu: setiap hari keputusan tertunda, ada anak yang kehilangan tempat belajar, ada pendidik yang merasa diabaikan, ada warga yang mulai ragu pada negaranya.

Moratorium bukan tembok penutup jalan. Ia adalah jeda untuk menata aturan yang baru. Jika aturan barunya tak kunjung selesai, mengapa yang lama sudah ditutup? Kepastian hukum bukan hadiah yang diberikan sesuka hati — ia adalah hak yang wajib ditepati. Tiga tahun bukan waktu sekejap. Tiga tahun adalah masa kanak-kanak yang berlalu, kesempatan yang hilang, kepercayaan yang terkikis perlahan-lahan.

“Pelayanan yang lambat adalah bentuk pengabaian. Pengabaian terhadap satu lembaga adalah pengkhianatan terhadap ribuan anak yang belajar di dalamnya.”

Andai aku jadi Kepala Dinas, aku tidak akan membiarkan tiang penyangga bangunan ini rapuh. Sebuah menara tidak tegak karena puncaknya tinggi, melainkan karena tiap pilarnya kokoh.

Kepala Bidang Sekolah Menengah Pertama (SMP) — bukan sekadar jabatan nama. Ia adalah orang yang memastikan puluhan sekolah berjalan, guru dibina, siswa dibimbing. Jika ia tidak memahami arah, maka semua yang di bawahnya kehilangan peta.

“Merasa pintar sendiri, besar dikata, sedang apa yang diperbuat, lain diucap, beda di tindakan.”

Kepala Bidang Tenaga Kependidikan (Tendik) — bukan sekadar mengurus daftar nama. Ia memegang nasib ribuan pendidik. Jika ia tidak lincah, tidak adil, tidak transparan, apalagi menyalahgunakan wewenang, maka guru yang menjadi pelita di kelas justru hidup dalam kegelapan ketidakpastian.

“Pemimpin yang tidak mampu menggerakkan bawahannya, ibarat tangan yang lumpuh namun kepala masih menyuruh memegang beban — semuanya akan jatuh.”

Evaluasi bukan hukuman. Evaluasi adalah cermin. Jika kinerja belum sesuai, perbaiki. Jika belum mampu, berikan pelatihan. Jika tidak sanggup, kembalikan kepada yang lebih mampu. Kesetiaan bukan diukur dari lama duduk, melainkan dari baiknya pelayanan.

Andai aku jadi Kepala Dinas, aku tidak akan merasa cukup sekadar memecahkan masalah saat sudah terbakar. Aku akan belajar mencegah sebelum api menyala.

Manajemen bukan sekadar mengatur jadwal. Ia adalah:

  • Mengetahui siapa mengerjakan apa, di mana, dan kapan selesainya
  • Menyatukan langkah agar tidak ada yang berjalan sendiri-sendiri
  • Membuka telinga pada setiap keluhan, bukan menutupnya dengan alasan prosedur
  • Menjadi jembatan antara warga dan kebijakan, bukan tembok yang memisahkan

“Pemimpin yang tidak mau belajar, tidak akan mampu memimpin. Pemimpin yang tak memahami jalannya lembaga, hanya akan menjadi penumpang di kapal yang tak tahu ke mana berlayar.”

Kepala Dinas tidak perlu tahu segalanya secara teknis, tetapi wajib tahu siapa yang mampu, apa yang terhambat, dan bagaimana menyelesaikannya. Jika belum paham, belajarlah. Jika belum mampu, minta bantuan. Jika masih tidak sanggup, serahkan kepada yang lebih mampu. Jangan biarkan masa depan anak-anak Bangkalan terhenti karena satu orang ragu mengakui keterbatasannya.

Andai aku jadi Kepala Dinas, aku akan memastikan setiap orang di dinas ini menyadari satu hal: kita tidak bekerja untuk pimpinan, kita bekerja untuk anak-anak yang belum pernah kita temui, namun masa depannya ada di tangan kita.

Kerja sama bukan sekadar saling menyapa. Kerja sama adalah saling mengisi, saling meluruskan, saling mengingatkan. Jika ada yang lambat, bantu. Jika ada yang salah, koreksi. Jika ada yang menyimpang, tegur. Kesunyian melihat kesalahan adalah persetujuan terhadap kerusakan.

“Bukan kekuatan satu orang yang membangun pendidikan, melainkan kebersamaan semua orang yang tidak rela melihatnya rusak.”

Andai aku jadi Kepala Dinas, aku akan memulai perubahan hari ini, bukan minggu depan, bukan bulan depan. Karena:

“Waktu tidak menunggu janji. Anak-anak tidak menunggu jabatan. Masa depan tidak menunggu orang yang ragu-ragu.”

Pendidikan tidak akan membaik dengan papan nama baru. Ia membaik ketika izin cepat turun. Ia membaik ketika pemimpin paham tugasnya. Ia membaik ketika setiap orang di dinas menyadari: mereka bukan tuan atas nasib rakyat, melainkan pelayan atas masa depan rakyat.

Apakah hal-hal ini sulit dilakukan? Tidak. Yang sulit adalah mengubah kebiasaan. Yang berat adalah merendahkan hati untuk belajar. Yang mulia adalah berani berkata: “Saya ingin melakukan lebih baik.”

Karena pada akhirnya, rakyat tidak akan menilai dari seberapa tinggi kursi yang diduduki. Rakyat akan menilai dari satu hal sederhana: apakah hidup mereka menjadi lebih baik karena kehadiranmu?

Lsmpakis.com
Dipublikasikan: Kamis, 17 September 2026
Kategori: Catatan Kritis & Refleksi
Semboyan: “Pejabat Budeg, Kita Ubeg”

Advertisement

Artikel Terkait :

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini